Arief Syam
Pernahkah kamu berpikir, kenapa sumber daya alam kita itu susah sekali dikelola? Banyak orang bilang kita sedang terkena “kutukan sumber daya alam” sebuah kondisi di mana kita terlalu bergantung pada kekayaan alam tapi malah berakhir menjadi kesusahan. Tapi, apakah kita cuma bisa pasrah dan bilang, “Ya, emang sudah nasib kena kutukan”?
Sebelum menyerah pada nasib, mari kita coba mengenali karakter asli dari sumber daya alam. Di dunia ekonomi lingkungan, sumber daya alam biasanya punya dua sifat utama yang sederhana tapi sering bikin orang pusing memahaminya: Subtraktabel (Subtractable) dan Non-ekskludabel (Non-excludable). Terdengar berat? Tenang, mari kita bedah pelan-pelan.
Sifat subtraktabel artinya kalau saya mengambil atau memakai sumber daya itu, maka jatah untuk kamu pasti berkurang. Simpelnya begini: kalau ada minuman kesukaan kita bersama, Tikolot misalnya, yang disediakan gratis dan ketika saya meminumnya, maka jatah untuk yang lain pasti berkurang.
Sementara sifat non-ekskludabel berarti sangat sulit, atau bahkan hampir mustahil, untuk melarang orang lain ikut mengambil manfaat dari sana. Biayanya terlalu mahal kalau kita harus memagari seluruh hutan atau menjaga setiap jengkal lautan.
Kombinasi kedua sifat inilah yang membuat sumber daya alam diklasifikasikan sebagai Common-Pool Resources (CPR) atau nama sederhananya sumber daya milik bersama.
Masalah muncul ketika CPR ini dibiarkan dalam status akses terbuka (open access) tanpa aturan yang jelas. Karena sifatnya yang milik bersama, secara praktis tidak ada pihak yang benar-benar merasa memilikinya. Akibatnya, semua orang berlomba-lomba mengambil manfaatnya secepat mungkin, tapi tidak ada satu pun yang peduli ketika sumber daya itu rusak. Fenomena inilah yang disebut oleh Om Garrett Hardin sebagai “Tragedy of the Commons” atau Tragedi Milik Bersama.
Untuk memahaminya lebih simpel, mari kita gunakan analogi Sapi di Padang Rumput (saya pakai sapi supaya lebih kearifan lokal, kalau analogi aslinya sih pakai domba).
Coba bayangkan sebuah desa dengan padang rumput hijau yang luas. Padang ini tidak bertuan dan terbuka untuk semua peternak sapi (akses terbuka). Padang rumput ini adalah CPR yang sempurna karena ia non-ekskludabel (siapa pun boleh masuk) dan subtraktabel (rumput yang dimakan sapi si A tidak bisa lagi dimakan sapi si B).
Dalam situasi ini, seorang peternak yang “rasional” akan berpikir “Kalau saya tambah satu sapi lagi, keuntungan penjualan sapi itu masuk ke kantong saya pribadi 100%. Tapi, kerugian karena rumputnya makin menipis? Ah, itu kan ditanggung bareng-bareng sama semua peternak sedesa.”
Karena setiap peternak di desa memiliki pikiran yang sama persis, mereka berlomba-lomba menambah jumlah sapi setiap harinya demi mengejar keuntungan pribadi yang maksimal. Hasil akhirnya? Padang rumput itu mengalami overgrazing. Rumput mati, tanah jadi gersang, dan akhirnya semua sapi di desa itu mati kelaparan. Inilah letak tragedinya yakni setiap individu bertindak rasional untuk keuntungan dirinya sendiri, namun secara kolektif, tindakan mereka justru membawa kehancuran massal bagi semua orang.
Logikanya sederhana sih gini, jika kebun pribadi kamu dirusak orang, kamu pasti akan marah besar, bahkan mungkin meraung-raung karena merasa hakmu dirampas. Ada emosi di sana karena ada rasa memiliki yang kuat. Namun, coba lihat jika padang rumput bersama atau sumber daya alam kita yang rusak. Adakah yang menangis? Adakah yang merasa dunianya runtuh?
Atau mari kita tanya lebih jujur saja deh, apakah Presiden atau Menteri Kehutanan akan merasa sedih saat hutan negara rusak, sesedih saat lahan pribadi mereka sendiri yang hancur?
Kalau keinginan saya sih harusnya mereka sedih, tetapi Sering kali tidak. Inilah ironi dari sumber daya milik bersama. Karena dianggap dimiliki oleh semua orang, akhirnya ia justru terasa seperti tidak dimiliki oleh siapa pun. Alih-alih merawat, setiap individu bahkan para pengambil kebijakan sering kali terjebak dalam perlombaan untuk memeras manfaatnya hingga tetes terakhir sebelum orang lain melakukannya. Kita membiarkan kerusakan terjadi di depan mata, selama sapi atau kepentingan kita masih bisa makan satu suap lagi sebelum semuanya benar-benar gersang.
Oleh karena itu, sumber daya milik bersama tidak bisa dibiarkan tanpa pagar aturan yang nyata. Perlu ada aturan main yang tegas, seperti batasan siapa yang boleh mengambil, seberapa banyak yang boleh diambil, dan sanksi apa yang didapat jika ada yang melanggar. Tanpa aturan main dan rasa tanggung jawab kolektif, kita sebenarnya sedang berjalan menuju bunuh diri massal.
Jangan sampai kita baru belajar menangis ketika alam sudah tidak bisa lagi memberikan apa-apa. Sebab pada akhirnya, kehancuran milik bersama adalah tragedi yang akan kita tanggung masing-masing secara pribadi.
Pertanyaannya sekarang untuk yang membaca ini “apakah kita benar-benar dikutuk, atau justru aturan main kita yang sekarang malah mendukung percepatan Tragedy of the Commons itu sendiri?”





