Matinya Kata Maha dan Ambisi Kursi Empuk Jakarta

Avatar
No comments

Arief Syam

Menjadi mahasiswa itu, kalau kata kanda-kanda saya dulu, adalah golongan istimewa. Ada beban yang sangat berat di balik kata “Maha” yang disandang. Seingat saya, itu karena mahasiswa dianggap makhluk yang sedang mengejar bentuk ideal kehidupan. Kata “Maha” kan identik dengan Tuhan dan segala kesempurnaan-Nya. Jadi, wajar kalau mahasiswa diharapkan jadi setengah dewa yang paling rajin teriak paling kencang soal keadilan. Makanya, saya sering merasa agak berat kalau harus memperkenalkan diri sebagai mahasiswa.

Tapi kalau diperhatikan sekarang, gerakan dari para makhluk setengah dewa ini kayaknya sudah mulai luntur.

Coba deh amati perkumpulan yang motor utamanya mahasiswa. Alih-alih jadi arena pemikiran kritis, perkumpulan tersebut pelan-pelan berubah fungsi jadi biro jasa penyedia batu loncatan.

Targetnya jelas yakni panggung politik negara.

Ironisnya, sebelum menginjakkan kaki di sana, para aktivis ini hampir pasti dijejali materi wajib kaderisasi tentang sejarah pergerakan mahasiswa. Dongeng tentang kemahakuasaan mahasiswa dulu terdengar sangat heroik. Saking seringnya materi sejarah ini didongengkan, saya teringat pada satu sosok si pendaki gunung.

Saya sangat suka mengenai soal independensi si pendaki gunung namanya sering muncul pasca-lengsernya Orde Lama. Saat itu, banyak kawan seperjuangannya yang langsung tergiur ditawari

kursi empuk di DPR atau diajak gabung partai. Wajar sih, namanya juga manusia. Dikasih fasilitas nyaman dan kursi empuk tentu beda rasanya dengan kursi di hopes yang keras.

Tapi sosok satu ini agak lain. Dia melihat teman-temannya mulai teler oleh obat yang paling adiktif mengalahkan obat-obatan terlarang bernama kekuasaan. Karena sudah gemas, sosok ini mengirimkan paket berisi gincu, bedak, sampai kutang ke teman-temannya yang sudah dudukmanis di parlemen. Pesan satirnya telak: “Kalian tidak lagi garang memperjuangkan rakyat, kalian sekarang hanya sibuk bersolek di hadapan penguasa.”

Nah, gejala bersolek ini rupanya mulai menunjukan tren baru. Sekarang saya sering lihat pentolan organisasi yang kemarin sore masih garang teriak di depan gedung DPR, eh, mendadak berubah haluan setelah masa jabatannya habis. Bukannya bicara soal langkah perjuangan selanjutnya untuk rakyat, mereka malah sibuk lapor ke abangda-abangdanya “Ada nggak nih yang bisa dikerjain?”

Pasti ada yang protes, “Lho, ya wajar dong mantan ketua masuk partai. Kan memang jalurnya begitu!”Ya, memang nggak dosa. Saya dukung kalau sistem politik kita diisi orang-orang yang sudah kenyang diskusi soal rakyat di kampus. Yang saya permasalahkan itu niatnya. Kalau dari awal gerakan mahasiswa cuma dijadikan personal branding dan barang dagangan buat CV politik, yaitu namanya pengkhianatan intelektual. Masa iya, isu rakyat cuma dijadikan anak tangga buat kamu yang ngebet duduk di kursi empuk?

Saya sih nggak benci mahasiswa, apalagi niat mengirim paket kosmetik ke mereka. Kosmetik mahal banget sekarang, Bos! Tapi sungguh disayangkan kalau organisasi mahasiswa cuma jadi tempat magang biar cepat dapat jabatan dan fasilitas mewah.

Makanya, penting untuk mengembalikan Ruang Publik di kampus kalau bahasa kerennya Habermasian Public Sphere, yang nanti kapan-kapanlah kita bahas lebih dalam. Intinya, kantin atau pelataran fakultas jangan cuma jadi tempat bahas rencana open recruitment atau bikin event hura-hura. Kembalikan itu jadi tempat bedah kebijakan negara yang amburadul.

Kalau kampus gagal menjaga ruang diskusinya dari syahwat kekuasaan, ya jangan kaget kalau mahasiswa lama-lama cuma jadi politisi amatir. Mereka yang hafal banget cara lobi-lobi jabatan, tapi mendadak amnesia cara berpihak pada rakyat.

Silakan kejar cita-cita jadi pejabat, tapi tolong, jangan jadikan penderitaan rakyat sebagai bahan bakar buat naik kasta ke dunia politik. Malu sama embel-embel “Maha”-mu itu.

Also Read

Bagikan:

Avatar

Teras Chitta

Min Chitta

Tags