Membaca Indonesia Lewat Stupidity Bernard Stiegler

Avatar
No comments

oleh Widhyanto Muttaqien

Dalam refleksi 80 tahun kemerdekaan Indonesia, peran pemuda tak bisa dilepaskan dari dinamika perubahan zaman. Namun, untuk memahami kedalaman tantangan yang mereka hadapi, kita perlu melampaui narasi heroik dan masuk ke ranah filosofis. Di sinilah tesis Bernard Stiegler (2015) menjadi relevan: bahwa krisis kontemporer bukan sekadar krisis ekonomi atau politik, melainkan krisis retensi dan trans-individuasi—krisis dalam cara kita mewariskan pengetahuan, nilai, dan makna antar generasi.

Dalam diskusi film Ingatan dari Timor (Watchdog, 2025) sebelumnya di Kopi Kebun, permasalahan pewarisan ingatan yang dibaca dalam sejarah resmi memperlihatkan jurang ketidaktahuan yang disebabkan penulisan sejarah yang tidak jujur dari penguasa, celakanya hal ini ingin diulang oleh Fadli Zon. Menteri Kebudayaan sekarang yang ingin mengubah sejarah Indonesia. Penulis menduga akan menjadi alat propaganda militer seperti buku 30 tahun Indonesia Merdeka (1975) yang ditulis di jaman Nugroho Notosusanto dkk. Ingatan dari Timor merupakan sebuah usaha kolektif dalam membuat narasi tanding yang berpihak pada korban pelanggaran Hak Azasi Manusia. Dalam Ingatan dari Timor sejarah ditulis ulang kembali oleh korban sebagai jembatan rekonsiliasi masa lalu-kini disini- dan masa depan.

Stiegler menyebut bahwa masyarakat modern mengalami regresi reason into rationalization – rasionalitas tidak lagi digunakan untuk berpikir kritis, tetapi untuk mengoptimalkan konsumsi, efisiensi, dan kontrol. Ini menciptakan masyarakat yang tampak cerdas secara teknis, tetapi kehilangan kebijaksanaan dan refleksi. “Stupidity is not the absence of knowledge, but the destruction of the conditions for knowledge.” — States of Shock

Stiegler berargumen bahwa teknologi bukan hanya alat, melainkan pharmakon—obat sekaligus racun. Dalam konteks digital, teknologi telah menggeser cara manusia mengingat, belajar, dan membentuk identitas. Proses retensi primer (pengalaman langsung) dan retensi sekunder (warisan budaya) kini digantikan oleh retensi tertier yang dimediasi oleh algoritma, platform, dan kapitalisme afektif.

Generasi muda saat ini kehilangan akses terhadap memori kolektif yang hidup, yang seharusnya menjadi fondasi budaya mereka. Akibatnya, proses individuasi mereka terganggu karena identitas lebih banyak dibentuk oleh pola konsumsi dan tren luar daripada melalui refleksi diri yang mendalam. Situasi ini memicu apa yang disebut disindividuasi massal, di mana generasi muda berubah menjadi sekumpulan massa yang terfragmentasi dan teratomisasi, bukan sebuah komunitas yang terhubung secara kuat oleh nilai-nilai dan tujuan bersama.

Diskusi buku Stiegler  menyoroti bahwa generasi muda mengalami distraksi masif akibat banjir informasi di ruang digital, di mana pendidikan dianggap gagal membekali mereka dengan kemampuan untuk menyaringnya secara kritis dan reflektif. Akibatnya, media sosial pun menjadi sumber informasi utama, meski sering kali menyajikan konten tanpa kedalaman, konteks yang memadai, maupun proses verifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam cengkeraman kapitalisme digital, manusia kehilangan kapasitas untuk berpikir secara trans-individuatif dan direduksi menjadi sekadar konsumen informasi pasif—sebuah kondisi yang justru diperparah oleh institusi pendidikan seperti sekolah dan universitas yang seharusnya menjadi ruang refleksi, tetapi malah ikut terproletarisasi.

Fenomena ini dapat disebut sebagai krisis perhatian, di mana kapasitas individu untuk fokus dan berpikir mendalam terkikis oleh sistem konsumsi informasi yang masif dan terus-menerus, yang pada akhirnya mengakibatkan proletarisasi psikis—suatu kondisi ketika individu kehilangan kendali atas pikiran dan arah hidupnya sendiri, sehingga berubah menjadi buruh algoritma yang hanya bereaksi terhadap impuls eksternal tanpa kemampuan untuk berefleksi atau menentukan nasibnya secara mandiri.

Melampaui Disindividuasi

Dalam konteks Indonesia, pemuda memiliki potensi sebagai agen re-individuasi dan re-politikalisasi ruang publik. Namun, ini mensyaratkan beberapa hal (1) Pemulihan memori kolektif menjadi kunci untuk membangun masa depan yang lebih bermakna. Hal ini berarti mengakses sejarah dan warisan budaya bukan sekadar sebagai arsip mati yang dihafal, melainkan sebagai sumber daya hidup yang dinamis. Dengan memahami narasi masa lalu, baik keberhasilan, kegagalan, pergumulan, dan kearifannya—generasi muda dapat merefleksikan kondisi saat ini dan mendapatkan perspektif kritis untuk merancang masa depan yang tidak terputus dari akarnya, tetapi justru lahir dari pemahaman yang mendalam terhadap perjalanan bangsanya.

Kedua, kemampuan kritik terhadap teknologi. Solusi atas tantangan zaman ini tidak dengan menolak digitalisasi secara utuh, melainkan dengan membangun kritik yang sehat terhadap teknologi. Yang dibutuhkan adalah pengembangan literasi teknologis yang tidak hanya fokus pada kemampuan teknis (how to use), tetapi juga pada pemahaman etis dan reflektif (why and what for). Generasi muda perlu didorong untuk mempertanyakan dampak psikologis, sosial, dan politik dari sebuah platform atau algoritma, sehingga mereka dapat memanfaatkan teknologi sebagai alat pemberdayaan yang melayani manusia, bukan sebaliknya, diperbudak olehnya.

Ketiga, partisipasi dalam produksi makna, agar tidak terjebak dalam posisi sebagai konsumen pasif, generasi muda harus didorong untuk berpartisipasi aktif dalam produksi makna. Ini artinya beralih dari sekadar mengonsumsi konten yang disodorkan oleh algoritma menjadi produsen narasi yang menciptakan dan menyebarkan ide, nilai, serta cerita yang otentik. Dengan menulis, membuat seni, memproduksi media, atau terlibat dalam diskusi publik, mereka dapat membentuk identitasnya berdasarkan kreasi dan kontribusi, sehingga secara kolektif mampu membingkai ulang realitas dan mengarahkan perubahan budaya secara lebih mandiri.

Hal yang sama disampaikan oleh Don Ihde (2008) dalam filsafat teknologi. Literasi teknologi harus mencakup pemahaman bahwa teknologi tidak hanya digunakan, tetapi juga menggunakan kita, teknologi membentuk cara kita melihat, berpikir, dan bertindak. Pemuda perlu diajak untuk menyadari bagaimana teknologi memediasi relasi mereka dengan dunia, bukan sekadar mempermudahnya. Kritik terhadap teknologi bukan hanya soal dampak sosial-politik, tetapi juga soal bagaimana ia mengubah pengalaman eksistensial. Misalnya, bagaimana media sosial mengubah cara kita mengalami waktu, kehadiran, dan relasi.

Ihde mendorong pendekatan multistabilitas, bahwa teknologi bisa digunakan dengan berbagai cara tergantung konteks budaya dan sosial. Maka, pemuda perlu didorong untuk menjadi co-designer teknologi yang sesuai dengan nilai lokal dan kebutuhan komunitas.

Banyak teknologi tampak transparan atau netral, padahal menyimpan bias dan struktur kuasa. Ihde mengingatkan bahwa setiap mediasi membawa interpretasi tertentu. Maka, pemuda perlu dilatih untuk membaca ideologi di balik antarmuka dan algoritma.

Empat relasi utama antara manusia dan teknologi dalam Don Ihde

RelasiPenjelasanContoh dalam konteks kontemporer
EmbodimentTeknologi menjadi perpanjangan tubuh dan persepsi manusiaSmartphone sebagai “mata kedua” dalam melihat dunia
HermeneuticTeknologi sebagai alat interpretasi terhadap duniaDashboard data sosial sebagai cara membaca masyarakat
AlterityTeknologi sebagai entitas lain yang berinteraksi dengan manusiaChatbot atau AI sebagai “mitra” dalam percakapan
BackgroundTeknologi sebagai latar yang membentuk pengalaman tanpa disadariAlgoritma rekomendasi yang membentuk preferensi budaya

Stiegler dalam bukunya menyatakan platform digital melakukan komodifikasi afeksi dengan mengubah perhatian dan interaksi manusia menjadi komoditas yang diperjualbelikan, sehingga membuat para pemuda rentan terhadap berbagai bentuk manipulasi afektif untuk kepentingan komersial dan politik.

Narasi sejarah dan kemerdekaan sering mengalami dekontekstualisasi, di mana makna perjuangan yang kompleks direduksi menjadi sekadar slogan kosong dan simbol-simbol seremonial, alih-alih menjadi bahan proses reflektif yang mendalam. NKRI Harga Mati, Damai Itu Indah, Kampus Merdeka mwerupakan bagian dari slogan kosong jika dilihat dari kenyataan yang berkebalikan. Identitas digital yang hiper-individualistik mendorong fragmentasi solidaritas, karena lebih menekankan pada ekspresi diri dan personal branding, yang pada akhirnya menghambat pembentukan gerakan kolektif yang kuat dan berkelanjutan.

Politik Retensi dan Pendidikan Emansipatoris

Sebagai respons terhadap tantangan zaman, muncul gagasan dari akar rumput untuk membentuk komunitas baca dan forum seperti Teras Chitta. Ruang-ruang ini dirancang sebagai tempat yang reflektif, jauh dari hiruk-pikuk dan distraksi media arus utama. Tujuannya adalah menciptakan wadah bagi generasi muda untuk berpikir kritis, berdiskusi mendalam, dan bersama-sama membangun kesadaran kolektif yang baru.

Gagasan membangun kultur tanding dan gerakan sosial berbasis kesadaran ini selaras dengan konsep ekologi perhatian yang ditawarkan oleh filsuf Bernard Stiegler. Stiegler menawarkan solusi dengan membangun ruang-ruang sosial yang dirancang khusus untuk memulihkan kapasitas manusia yang paling hakiki: yaitu kemampuan untuk berpikir jernih, merasakan dengan mendalam, dan berkreasi secara mandiri. Dalam hal ini, komunitas semacam itu berfungsi sebagai ekosistem alternatif yang melawan logika ekonomi perhatian yang merusak.

Bagi Stiegler, komunitas reflektif pada dasarnya adalah sebuah bentuk resistensi politik yang crucial terhadap sistem kapitalis yang mengalienasi. Dengan sengaja menciptakan ruang yang melindungi perhatian dari komodifikasi, komunitas ini bukan sekadar pelarian, melainkan aksi nyata untuk merebut kembali kedaulatan kognitif dan afektif. Dengan demikian, setiap diskusi yang mendalam dan setiap upaya membaca bersama di dalamnya merupakan praktik untuk menjadi individu yang otonom dan membangun masa depan bersama yang lebih manusiawi.

Tujuan gerakan secara keseluruhan adalah membangun sebuah ekosistem budaya yang mengintegrasikan pemahaman sejarah, literasi teknologi, dan pertimbangan etika secara mendalam, untuk memberdayakan generasi muda. Gerakan ini berkomitmen menciptakan ruang partisipatif yang memungkinkan para pemuda tidak hanya menjadi konsumen pasif, melainkan produsen narasi alternatif yang kritis dan kreatif. Pada akhirnya, gerakan budaya ini bercita-cita menghubungkan memori kolektif dan kearifan lokal dengan tantangan global, membentuk solidaritas yang kuat dan menjawab persoalan zaman secara kontekstual.

Also Read

Bagikan:

Avatar

Teras Chitta

Min Chitta

Tags